Umur baru 17 tahun, tapi sudah mampu berbicara di even dunia. Itulah Irene Kharisma Sukandar. ABG kelahiran Jakarta 7 April 1992 tersebut satu-satunya pecatur wanita bergelar grand master wanita (GMW) yang dimiliki Indonesia saat ini.
Berkat ukiran prestasi itulah, Irene – sapaan akrab Irene Kharisma Sukandar- selama tujuh tahun berturut-turut tidak pernah absen menjadi duta bangsa dalam berbagai even catur internasional. Setiap dia tampil di mancanegara, sang saka Merah Putih selalu terpampang di arena pertandingan.
Yang menarik, Irene meraih sertifikat gelar tertinggi olahraga catur khusus kelompok wanita itu saat dia hendak ke toilet ketika mengikuti turnamen catur Singapura Terbuka pada 9 – 14 Desember tahun lalu. Sertifikat itu diserahkan langsung oleh Presiden Konfederasi Catur ASEAN Ignatius Leong.
Peristiwa langka itu nyaris membuat Irene tidak percaya. Sebab, tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Bahkan, hingga saat Irene bertanding menghadapi Yang Kaiqi dari Tiongkok, pada hari ketiga turnamen Singapura Terbuka 2008. Tak hanya Irene, dua petinggi PB Percasi (Persatuan Catur Indonesia), Sebastian Simanjuntak (Sekjen) dan Kristianus Liem (Humas) yang ikut mendampingi Irene, juga tidak memperoleh kabar tersebut.
Irene pun bak mimpi di siang bolong ketika secara tiba-tiba, saat berjalan hendak ke toilet, dicegat oleh Ignatius Leong dan diberi selembar sertifikat GMW atas nama dirinya. Gelar paling bergengsi dari Federasi Catur Dunia (FIDE) itu diperoleh berkat penampilan terakhirnya di Olimpiade Catur di Dresden, Jerman, pertengahan November 2008. Poin Irene ternyata sudah cukup memenuhi syarat untuk meraih gelar GMW.
Sudah puaskah Irene dengan hasil tersebut? Apa rencana dia berikutnya?
Tercatat sebagai pecatur pertama Indonesia yang meraih gelar GMW memang sangat membanggakan Irene. Namun, itu tidak berarti dia puas sampai di situ. Penggemar cerita wayang tersebut masih terobsesi untuk meraih gelar yang lebih tinggi lagi. “Saya ingin meraih gelar GM pria,” tandasnya.
Konsekuensi dari ambisinya itu adalah Irene harus terus meningkatkan prestasi dan mengikuti berbagai turnamen catur kelompok pria. Program mengikuti turnamen dan kepelatihan di mancanegara sesungguhnya sudah dibuat sejak awal tahun lalu atau beberapa hari setelah mendapat gelar GMW.
Irene dengan dibantu PB Percasi sudah pula meminta bantuan pemerintah, baik melalui KONI maupun Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Tanggapannya positif. Kemenpora sanggup membantu pendanaan, sedangkan KONI menyiapkan akomodasi.
Realisasinya? Hingga saat ini belum terwujud. Berulang-ulang manajemen Irene mempertanyakan hal tersebut, tetapi hingga sekarang tidak ada kepastian. Realisasi itu terasa makin jauh karena Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) hampir berakhir. Meski SBY kembali terpilih sebagai presiden RI dengan Boediono menggantikan posisi JK, Irene semakin pesimistis janji bantuan Kemenpora itu bisa terwujud. Apalagi jika posisi Adhiyaksa Dault selaku Menpora Kabinet Indonesia Bersatu ditempati orang lain pada kabinet mendatang.
Walau merasa kurang mendapat perhatian dari pemerintah atas prestasi yang pernah diukir lewat papan catur, Irene tidak patah semangat. Dia tetap bertekad bisa mengibarkan Merah Putih di berbagai negara lewat kepiawaiannya dalam mengadu otak di atas papan catur.
Aktivitasnya mengikuti turnamen di mancanegara membuat Irene hampir enam tahun tidak terlibat langsung dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI. Selama ini, saat bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya, Irene kerap berada di Malaysia. Dia mengikuti turnamen catur Piala Kemerdekaan negeri itu.
“Baru tahun ini saya bisa ikut merayakan HUT RI di Indonesia. Biasanya, sejak 2003, setiap tujuh belasan, saya ada di Malaysia untuk mengikuti turnamen catur di sana. Kebetulan, tahun ini turnamennya diundur menjadi 21-29 Agustus 2009,” ujarnya. (ado/kum)
Sumber:
http://creativesimo.wordpress.com
http://www.jawapos.co.id



Arval Kharisma Putra
Situs Kimia Indonesia